Dua Hati – oleh Ida Ismara

Kuciptakan keindahan dihatimu
Kutanamkan kerinduan di jiwamu
Terhampar luas samudera kasihku
Tebarkan kedamaian bagi hidupmu
Untaian kata demi kata yang terucap
Terangkai indah dalam setiap kalimat
Laksana ajimat yang telah terpahat
Pengikat dua hati yang saling terpikat
Senandung nada cinta yang mengalun syahdu
Lembut berbisik seiring hembus sang bayu
Belai kasih berlabuh di kesunyian
Membangkitkan hasrat hati yang kasmaran

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puisi Cinta Paling Romantis 2015 - Terupdate

Puisi Cinta - Rasanya tidak akan pernah habis kata jika kita membicarakan tentang cinta, karena cinta adalah hal paling lumrah yang ditemui dalam kehidupan manusia. Manusia sebagai mahkluk sosial tentunya diharuskan berinteraksi dengan sesame makhluk, tak jarang interaksi tersebut menimbulkan perasaan-perasaan khusus, seperti cinta. Dan siapapun yang tengah merasakan cinta pasti berkeinginan untuk mengutarakan rasa cintanya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ada berbagai cara Untuk mengutarakan perasaan yang kita miliki, salah satunya adalah dengan menggunakan puisi cinta. Puisi cinta acap kali menjadi alternative baru. Hal ini tentu saja karena puisi bukanlah hal baru dan sebagian besar masyarakat menyukainya, apalagi jika tema yang digunakan adalah cinta.

Selain lebih otentik, puisi cinta yang digunakan untuk menyatakan perasaan terhadap seseorang juga dirasa lebih menyentuh, dan pastinya menimbulkan kesan yang lebih mendalam. Tetapi sayangnya, tidak semua orang diberkahi kemampuan di bidang sastra, kebanyakan mereka menyadur puisi-puisi karya orang lain, meskipun hal tersebut terbilang tidak mudah karena terbatasnya media yang mempublikasikan puisi-puisi cinta. Untuk itulah, di bawah ini kami telah mengumpulkan berbagai puisi cinta yang berasal dari berbagai sumber khusu untuk anda semua, selamat menikmati :

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita Remaja

Kisah Cinta Anak Remaja Zaman Sekarang
ni sebuah cerita karangan anak anak kelas gue. dibaca ya ! seru loh !
Ketika bell berbunyi , siswa siswi SMP Kencana 8 jln.Legok Hangseur mulai memasuki kelas mereka masing masing. Kemudian Pak Andre memasuki kelas 8j bersama siswa baru berparas catik yang bernama Frieta. Pak andre pun memperkenalkan siswa baru itu kepada murid 8j
Pak andre : “Selamat pagi anak anak..”
Murid : “Pagi pa..”
Pak Andre : “anak anak bapak sekarang bersama murid baru.. ayo frieta perkenalkan diri!”
Frieta : (dengan sombong)
Pak Andre pun menyuruh frieta untuk duduk disebelah Putri yang terkenal WAH banget.
Kemudian zeerin yang duduk di sebelah bangku frieta menyodorkan tangan dan berkenalan dengan frieta.

Zeerin : “hai (sambil menyodorkan tangannya). Salam kenal ya. Nama ku Zeerin
Frieta : “hai juga (jawabnya sinis) . iya “
Pelajaran pun berlalu. Bel istirahat pun berbunyi. Ketika Putri, Resyi dan Frieta akan pergi ke kantin dia bertemu dengan 4 laki laki yang dibilang tenar di sekolah. Ketika sedang berjalan, frieta tidak sengaja menumbruk salah seorang dari ke4 cowo tenar itu sebut saja dia febri.
Frieta : “Aww.. Lo tuh jalan pake mata dong!! Liat nih baju gue kan jadi basah! “
Febri : “hah ? bego banget lo! Dimana mana jalan itu pake kaki bukan pake mata!”
Frieta : “oh gitu ya? Jadi gue harus bilang WAW dan salto diatas menara eiffel gitu ? hallooo siapa lo ?”
Febri : “eh lo murid baru ya ? dulu sekolah dimana ? diajarin tatakrama ga sih ? bukannya minta maaf ke, apa ke”
Frieta : “eh yang harus minta maaf tuh lo kali, bukan gue, Rese !”
Frieta pun meninggalkan febri
Putri : “eh, lo tau engga sih tadi lo ngomong sama siapa ?”
Frieta : “Hah? Emangnya tadi gue ngomong sama siapa ? cowo rese ?”
Resyi : “bukan, dia tuh cowo paling nge trend di sekolah ini “
Frieta : “Yang itu ? (sambil nunjuk ke febri yang lagi suap suapan sama zeerin)”
(menuju ke zeerin sama febri)
Febri : “Nih sayang, awas, pelan pelan ya, panas nih”
Zeerin : “Iya” (sambil makan)
Frieta : “Dia sama siapa? Kayanya gue kenal, temen sekelas kita ya ?”
Putri : “iya, mereka tuh pacaran, kalo engga salah tuh, udah mau setaun, romantisnyaaa... gilaa...”
Febri : “di kelas kamu ada murid baru ya ?”
Zeerin : “Iya, emangnya kenapa ?”
Febri : “Engga, dia tuh tadi nabrak aku”
Zeerin : “oohh, tapi kamu engga apa apa kan? Engga ada yang sakit? ga jatoh kan?”
Febri : “engga ko sayang”
Zeerin : “ udah bel tuh , sana masuk kelas . “
Febri : “ iya sayang “ ( sambil mencubit pipi )

Bel masuk pun berbunyi, mereka pun masuk ke kelasnya masing masing.
Tak terasa bel pulang pun berbunyi.
Di lapangan, Frieta bertemu dengan Febri.
Frieta : “Eh, Febri Febri”
Febri : “Apa?”
Frieta : “Engga, Cuma mau minta maaf soal tadi. Gue denger lo cowo tenar ya di sekolah ini?”
Febri : “Oh iya ga papa, iya dong, gue.. hehehe”
Frieta : “eh, minta no hpnya dong !”
Febri : “Boleh boleh, nih !”
Frieta : “Thank’s ya “
Detik demi detik berganti menit, menit pun kini telah berganti jam, jam berganti hari , haripun berganti minggu ,dan minggu berganti bulan . tak terasa bulan ini adalah bulan dimana zeerin dan febri anniversary yang ke 1 tahun . tapi bberapa Hari ini Febri tidak seperti biasanya. Dia tidak lagi mendekati Zeerin, pacarnya. Hari ini Frieta, Putri dan Resyi seperti biasa pergi ke kantin. Ketika di kantin, mereka bertemu dengan keempat cowo itu lagi. Sementara Zeerin, safira dan Agas melihat dibelakangnya.
Febri : “Frieta Frieta”
Frieta : “Iyah”
Febri : “sini dulu sebentar bisa?”
Frieta : “bentar ya!”
Frieta menghampiri Febri
Frieta : “Ada apa feb?”
Febri : “Aku suka sama kamu. Kamu mau engga jadi pacar aku?”
Frieta : “hah?”
Febri : “AKU SUKA SAMA KAMU ”
Zeerin : “Febri !”
Febri : “Hah? Zeerin !”
Zeerin lari meninggalkan Febri. Namun Febri Mengejarnya.
Febri : “Zeerin. (sambil memegang tangan zeerin)”
Zeerin : “Udahlah Feb, kalo misalnya kamu sayang sama Frieta, Udah sama dia aja, engga usah ngejar ngejar aku lagi.”

Febri : “aku tuh Cuma sayang sama kamu, Cuma cinta sama kamu, Hatiku tuh Cuma buat kamu Zeerin”
Zeerin : “Kamu engga inget tentang apa yang udah kita laluin selama setaun ini? Makasih buat kenangan yang udah kamu kasih selama setahun ini”
Febri : “ayolah zer, aku Cuma sayang sama ka..”
Zeerin : “BULSHIT !! Kita PUTUS ! Makasih buat aniv satu tahunnya”
Febri : “Ahhh... baiklah, kita putus“
Febri pun kembali menghampiri Frieta
Febri : “Gimana, Mau jadi pacar aku?”
Frieta hanya menganggukan kepala
Febri : “Bener, kamu mau ?”
Frieta : “iya, aku mau”
Frieta dan Febri pun pergi
Sementara di tempat lain agas dan safira menenangkan zeerin yang sedang menangisi febri .
Safira : “udah zer, ga usah nangis, kita do’ain aja Febri dapet karma dari kamu. 2012 kan, Karma berlaku dong”
Zeerin : “Tapi kaaan, aku sayang sama dia.”
Safira : “Udah Zeerin, kamu harus bisa move on”
(Zeerin hanya bisa menangis)
Agas pun berbisik kepada Safira.
Agas : “Saf, bisa tinggalin aku sama Zeerin?”
Safira : “Iya”
Safira pun pergi meninggalkan mereka.
Agas : “Zer, udah jangan sedih, kamu jangan nangisin Febri, air mata kamu itu terlalu berharga”
Zeerin sedikit tersenyum
Zeerin : “Lebay kamu gas”
Agas : “senyum juga kamu, hahaha. Zer?”
Zeerin : “apa gas?”
Agas : “kalo kamu lagi sedih, ada seseorang yang slalu ada buat kamu”
Zeerin : “hmm”
Agas : “Dan tanpa kamu sadar, ada orang yang nyimpen perasaan buat kamu dan slalu menjaganya”
Zeerin : “terruuss?”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebuah Cerita Nyata

KISAH NYATA. . .
Ini merupakan kisah nyata yang terjadi di desa ku tepatnya di Desa X(nama kami samarkan). Di desa X ini memang sangat memegang adat istiadat aturan/ norma social. Ya . . . maklumlah emang lau hidup di desa itu seperti itu. Cerita ini dimiliki oleh seorang gadis belia(remaja) usia 17 tahun.Dia memiliki dua saudara. Kakaknya yang telah tamat sekolah, dan adiknya yang masih sekolah di salah satu sekolah menengah atas negeri di daerah ku. Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa, yang menggantungkan diri dari apa yang diberikan oleh sang suami. Sang suami sendiri kerja merantau di Jakarta dan berprofesi sebagai “supir taxi”. Remaja ini bernama Mawar(nama kami samarkan). Mawar bersekolah di salah satu Madrasah Aliyah Negeri di daerahku. Hari2 nya ia lalui dengan happy, tumbuh seperti remaja2 pada umumnya. Kita dapat mengatakannya karena memang salah satu dr kita adalah teman kecilnya. Kami tumbuh bersama2. Kami lumayan akrab.
 
Tetapi kebahagiaan dan keceriaan Mawar serasa berubah 180° saat dia mendengar kabar bahwa ayahnya yang diperantauan Jakarta sakit parah. Hal ini terjadi tepatnya pada saat semester satu, Mawar kelas satu SMA. Dan pada saat itu juga adiknya juga setengah tahun lagi akan masuk SMP. Parahnya lagi kakanya yang telah lulus SMA tidak mau mencari kerja dan hanya bermalas2 an di rumah. Sekolah Mawar terancam putus di tengah jalan.Uang BP3 belum terbayar, sementara kebutuhan buat makan pun terasa sangat susah buat dipenuhi. Akhirnya ibunya membuat makanan kecil2 an yang kemudian di titipkan di pasar terdekat. Tapi hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari2. Kebutuhan sekolah pun akhirnya terbengkalai. Mawar tidak mau putus sekolah. Dia berusaha mencari pekerjaan. Untungnya ada seorang guru perempuan yang mengajarnya mau membantu nya , memberi dia pekerjaan, dan bersedia untuk membiayai sekolahnya. Beberapa bulan dilalui Mawar dengan sangat ikhlas. 

Suatu hari, ibunya mendapatkan uang hasil dari menjual tanah warisan sebesar kurang lebih 7 jt. Anehnya uang tersebut tidak dipakai untuk melunasi semua tunggakan sekolah Mawar, melainkan untuk membeli sepeda motor second. Kabar ini diketahui oleh pihak sekolah. Pihak sekolah pun merasa sangat marah karena pihak Mawar mengaku tidak punya uang, tapi malah membeli sepeda motor yang merupakan kebutuhan sekunder. Akhirnya ibu guru yang tadinya membiayai Mawar pun memutuskan biaya untuk Mawar. Tapi sampai sekarang Mawar masih diperbolehkan untuk sekolah walau belum melunasi uang tunggakan BP3.Entah karena keadaan atau hal lain ibunya kini mempunyai PIL(Pria Idaman Lain) yang sanggup memenuhi kebutuhan ekonomi maupun biologis ibunya. Hal ini membuat tetangga2 Mawar mengucilkannya. Mawar sangat terpukul. Dia menjadi sangat murung dan tertekan. Denger2 kabar kalau ayah nya yang ada di Jakarta sudah sembuh. Tapi anehnya ayahnya jadi pemalas tidak mau bekerja. Tau mungkin dia tela mengetahui kalau istrinya main serong dengan pria lain.Tapi entahlah???!!!Hnya dia dan Tuhan lah yang tahu.

Bulan berganti bulan, hari berganti hari. Mawar pun terus mendapat siksaan lahir batin dari lingkungan tempat tinggalnya dan juga di sekolahnya. Mawar sangat stress. Ini membuat tingkah lakunya yang dulu sangat alim dan rajin beribadah menjadi pembangkang dan jauh dari Tuhan. Dia pun mulai sering tidak pulang dan kerab mengenalkan cowox nya ke aq(salah 1 dr kita). Dia cerita karena Mawar memang sering menginap di rumah ku. Dia cerita bahwa dia sangat bahagia dengan pacarnya itu. Tetapi suatu malam dia ke rumah ku dan cerita tentang hubungannya dengan pacarnya yang udah putus. Tapi anehnya Mawar mengatakan hidupnya udah selesai dan hancur. Mawar mengatakan bahwa dirinya telah kehilangan hartanya yg paling berharga. Entah apa yg dimaksudkannya tapi aku sadar bahwa dia telah mengalami hal buruk dalam hidupnya.Entah masalah kevirginan atau apa. Aku juga tidak tahu pasti.Sampai saat ini keadaannya makin parah. Dia kerap pulang subuh atau malah tidak pulang sama sekali. Tetangga 2 tambah berpikiran negative tentang hal Itu.Dan yang pasti badan Mawar kian hari kian kurus layu. Dan dia menjadi berdandan dan beruang. Pernah suatu hari ia berkata ke salah satu temen nya bahwa dia dalam satu malam pun bisa kalau hanya mendapatkan uang 500rb.Ada apa ini? Aku sebagai sahabatnya pun sangat sedih, kasihan tp tak tahu harus berbuat apa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita Kenakalan remaja

Cerita Kenakalan Remaja


Cerita seks gadis remaja – Meskipun awalnya ragu, akhirnya Nisa mau juga masuk ke rumah Faris. Dadanya berdegup kencang karena ini adalah kali pertama ia capital ke rumah teman prianya. Kamu tentu tahu Madrasah ‘Aliyah tempat mereka berdua bersekolah melarang hubungan lawan jenis seperti ini. Seperti halnya perintah tegas Sekolah kepada setiap siswi untuk mengenakan jilbab.
Tapi Nisa tak bisa menolak ajakan teman yang ia sukai itu. Dua tahun sudah mereka saling mengenal, sejak keduanya sama-sama duduk di bangku kelas satu. Dan perasaan suka itu muncul di hati Nisa tak absolutist setelah pertemuan pertamanya. Kalau tidak karena Faris memberi sinyal yang sama, Nisa tentu sudah melupakan perasaannya. Tapi cowok itu terus saja bersikap spesial kepadanya, hingga cinta jarak jauh mereka terjalin erat meski tanpa kontak fisik.
Lalu tiga bulan yang lalu saat menjelang Ujian Akhir Sekolah. Kelas pria dan wanita yang biasanya terpisah mulai digabung di beberapa kesempatan karena alasan peningkatan intensitas pelajaran. Siswa putra duduk di barisan depan, sedang yang putri di bagian belakang. Tapi Faris duduk di barisan putra batten belakang sedang Nisa di barisan putri batten depan. Maka tak ayal Faris berada tepat di depan Nisa. Dan itulah awal kontak terdekat yang terjadi pada mereka.

Biasalah… Awalnya pura-pura pinjam alat tulis, tanya buku, ini… itu… Tapi senyuman makin sering tertukar dan kontak batin terjalin dengan pasti. Kadang ada alasan bagi keduanya untuk tidak keluar buru-buru saat istirahat, hingga ada masa singkat ketika mereka hanya berdua di dalam kelas; tanya-tanya pelajaran—alasan basi yang batten disukai setiap orang.
Dua bulan lebih dari cukup untuk memupuk rasa cinta. Meski pacaran adalah terlarang, dan keduanya belum pernah saling mengutarakan cinta, tapi semua teman mereka tahu keduanya adalah sepasang kekasih. Hubungan cinta yang unik di jaman yang serba bebas ini. Dan Nisa begitu menikmati perasaannya. Setiap waktu teramat berharga. Sekilas tatapan serta seulas senyuman selalu menjadi bagian yang menyenangkan.
Lalu cinta mulai berkembang saat kenakalan muncul perlahan-lahan. Nisa sempat ragu saat Faris memintanya untuk datang ke Mall M sepulang sekolah abscessed itu.

Sejuta perasaan bahagia membuncah di hati Nisa, bercampur dengan rasa takut dan kegugupan yang luar biasa. Ia nyaris pulang lagi saat abscessed itu ia berdiri di pintu Mall untuk bertemu dengan Faris. Tapi cowok itu keburu melihatnya hingga ia tak dapat menghindar lagi. Ia tahu bahwa dirinya salah tingkah selama kencan pertama mereka.
Malamnya Nisa tak bisa tidur. Membayangkan tentang betapa menyenangkannya kencan mereka, saat untuk pertama kalinya Faris menggenggam tangannya selama berkeliling melihat-lihat banyak hal. Seluruh tubuhnya terasa panas dingin. Faris bahkan membelikan sebuah hadiah berupa kalung mutiara yang sangat mahal untuk ukuran dirinya. Untaian mutiara itu sangat indah, putih memancarkan kilau yang terang. Cowok itu berkata, “Walaupun aku tak akan dapat melihatmu mengenakan kalung itu, kuharap kamu mau tetap mengenakannya.” Dan tentu saja ia senantiasa mengenakan kalung mutiara itu.
Satu bulan itu dihiasi dengan kencan sembunyi-sembunyi yang sangat mendebarkan. Seperti bermain kucing-kucingan dengan semua orang yang Nisa kenal. Kalau ada satu saja orang yang tahu Nisa berduaan dengan seorang pria di Mall, maka Nisa tak dapat membayangkan petaka apa yang akan menimpanya. Tapi berhenti dari melakukan itu ia yakini lebih mengerikan daripada terus menjalaninya. Karena, di abscessed itu, di satu sudut yang sepi di dalam Mall, tiba-tiba saja Faris mencium pipinya dengan cepat tanpa mengatakan apapun juga. Hanya sekilas, dan Faris membuat seolah-olah itu tak pernah terjadi. Tapi pengaruhnya sangat besar pada diri Nisa. Karena seluruh perasaannya bergemuruh dan membuncah. Bercampur aduk hingga ia hanya bisa diam saja seperti orang bodoh. Sisa abscessed itu berlalu tanpa ada chat apapun, karena Nisa tahu wajah putihnya telah berubah semerah udang rebus. Meninggalkan kesan terindah yang terbawa ke dalam mimpi bermalam-malam sesudahnya.

Tiga hari sejak peristiwa itu Nisa selalu berusaha menghindar dari Faris. Ia merasa malu, bingung dan takut. Bagaimanapun juga satu sisi perasaannya masih memiliki keyakinan bahwa cinta mereka mulai melewati batas. Tapi ia belum tahu cara kerja nafsu. Karena ketika akhirnya mereka bertemu kembali, Nisa tak bisa menolak saat di banyak kesempatan Faris mencium pipinya berkali-kali; kanan dan kiri. Bahkan, saat Faris semakin nakal dengan meremas tangannya, memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya (meski semua itu dilakukan Faris tak lebih dari lima detik saja), Nisa hanya terpana dan sangat menikmati semuanya. Sebelum berpisah, Faris berbisik pelan kepadanya, “Kamu mau, kan, capital ke rumah esok sore?”
Anehnya, seperti seorang yang terhipnotis, Nisa mengangguk…
Maka, abscessed itu, dengan mengenakan gamis bercorak ceria khas remaja dengan hiasan renda bunga melati, dipadukan dengan jilbab blush yang disemati bros berbentuk kupu-kupu, juga sebuah tas jinjing dari kain kanvas, Nisa duduk di daybed ruang tamu di rumah Faris. Menunggu kekasihnya mengambilkan dua gelas jeruk dingin dan sepiring buah-buahan segar. Matanya menatap ke sekeliling ruangan dan mendapatkan kesan yang sangat menyenangkan.
Kesan itu didapat, sebagian karena bagaimanapun ini adalah rumah orang yang ia cintai, dan sebagiannya lagi karena pemiliknya memiliki cukup banyak uang untuk menata dengan demikian indahnya. Nisa tak tahu banyak soal dekorasi, tapi sesungguhnya rumah itu memang didesain dengan nuansa klasik yang sesuai dengan alam pegunungan tempat rumah itu berdiri. Perabotan, dari mulai lampu-lampu, tempat duduk, meja, lukisan-lukisan serta berbagai hal didominasi oleh corak bambu dan kayu asli. Sementara dedaunan dan tanaman hijau—bercampur antara imitasi dan buatan—menghiasi sudut-sudut yang tepat. Air terjun buatan dibangun di samping ruang tamu, dengan cahaya matahari yang hangat menyinari dari kaca jendela samping. Wilayah itu ditutup oleh kaca bening yang dialiri air dari atas, sehingga mengesankan suasana hujan yang indah dan menimbulkan bunyi gemericik air yang terdengar menyenangkan.


Lukisan pedesaan dipasang di satu sudut yang tepat bagi pandangan mata, dengan gaya naturalis hingga setiap detail nampak sangat jelas. Seperti sebuah foto namun memancarkan ambience magis yang lebih kentara. Nisa sempat terpana dengan semuanya, dengan kesejukan yang melingkupi seluruh dirinya, sampai ia tak sadar kalau Faris telah duduk di sebelahnya, sedang menata gelas dan piring-piring.
“Maaf, ya… Seadanya. Habisnya Umi lagi ke Bandung ikut seminar, nemenin Abi…”
Nisa tersipu malu. Ia berasal dari keluarga yang lebih sederhana, sehingga rasa mindernya muncul saat mendapati rumah yang demikian besar dan mewah ini ternyata milik pacarnya.
“Nggak apa-apa, Ris. Nisa seneng, kok…” Nisa merasakan suaranya tercekat di tenggorokan.
Sore itu Nisa lalui dengan sangat menyenangkan. Ngobrol berdua, bercanda, tertawa, nonton film, capital bold PS hingga makan malam. Nisa baru tahu bahwa ternyata Faris bisa memasak. Pintar malah. Kelezatan rasanya melebihi masakan yang pernah ia buat. Dengan malu ia mengakui itu di hadapan kekasihnya, yang membalasnya dengan ciuman pipi kanan yang lembut.
“Aku tetep sayang kamu, kok…”


Perlu diketahui bahwa Nisa saat itu berusia 16 tahun dan memiliki tubuh yang mulai matang sebagai seorang gadis. Posturnya juga tinggi dengan wajah manis yang terkesan keibuan. Tapi percayalah bahwa ia sangat polos, lebih polos dari gadis SD di kota besar yang telah mahir urusan peluk dan cium. Desa tempat ia tinggal sangat jauh dari arus informasi dan pengaruh buruk ibukota. Maka ia tak menaruh prasangka apapun saat Faris mengajaknya menginap di rumahnya malam itu. Memang ini urusan yang tabu di desanya, tapi kepolosan Nisa membuatnya yakin bahwa Faris tak akan melakukan hal buruk terhadapnya. Sehingga, pilihan berbohong ia lakukan agar bisa berduaan terus dengan kekasihnya. Ia telah bilang pada orang rumah bahwa ia akan menginap di rumah Ririn. Ia tahu orang tuanya tak akan curiga, karena hal itu biasa ia lakukan di waktu-waktu ujian sekolah. Apalagi menjelang Ujian Akhir seperti sekarang.
Suasana malam sangat sunyi dan suara jengkerik telah berganti dengan burung malam. Tak berapa absolutist rintik hujan mulai turun, dan Nisa tak menyadarinya sampai hujan itu berubah jadi deras. Sangat deras, karena di musim penghujan seperti ini hal seperti itu selalu saja terjadi. Kalau tidak karena suasana cinta yang tengah meliputinya, Nisa tak akan betah di rumah orang dalam situasi seperti itu.


O, iya… Sebetulnya Nisa dan Faris tidak benar-benar berdua di rumah, karena ada Hana, adik perempuan Faris yang sekarang duduk di bangku kelas 1 SMP. Makanya Nisa tidak terlalu merasa sungkan, karena ia bisa bermain dengan Hana juga di sepanjang abscessed dan malam itu. Farislah yang agak kerepotan karena harus meminta Hana agar berjanji tidak memberitahukan keberadaan Nisa kepada orang tua mereka. Hana sebetulnya tidak susah dibujuk. Hanya saja keberadaannya menyulitkan karena ciuman-ciuman harus dilakukan secara hati-hati.
Peluk dan cium beberapa waktu yang lalu memang mendapatkan perlawanan (meski setengah hati) dari Nisa. Tapi hal itu tak berlaku malam ini, karena kini Nisa merasa lebih santai dan bebas. Di satu kesempatan Faris memeluknya sembari mencium bibirnya sekilas. Di kesempatan lain ia dipeluk dari belakang, tepatnya saat ia mencuci piring bekas makan malam dan pria itu mengendap-endap dari belakang dan begitu saja melingkarkan tangan di pinggangnya. Nisa sempat menjerit pelan dan berusaha meronta, tapi tangannya yang memegang piring dipenuhi busa sabun hingga susah untuk bergerak. Ia hanya menggelinjang pelan dan merengek lemah, saat pelukan itu makin erat dan ciuman di pipinya membuatnya terbius. Hampir saja Hana melihat perbuatan mereka, kalau Faris tidak buru-buru melepaskan pelukan di pinggang yang ramping itu.
Setelah mandi malam yang menyenangkan, di dalam bath-tub air hangat yang penuh busa dan peralatan mandi yang lengkap milik Umi Faris, Nisa bergabung dengan kakak beradik di ruang TV. Ia mengenakan busana malam yang lebih santai (setidaknya untuk ukuran gadis berjilbab); kemeja kaus lengan panjang putih bermotif garis warna biru dengan bawahan rok katun berwarna biru lembut, dipadukan jilbab simpel berwarna biru senada. Parfum balm bunga khas remaja ia seprotkan di tempat-tempat yang tepat untuk menyegarkan dirinya. Lalu ia duduk di samping Hana yang sedang tertawa menyaksikan blur kartun di televisi.


Mata Nisa saat itu tertuju penuh ke televisi, namun pikirannya terbang ke alam tertinggi yang penuh imajinasi. Pelukan dan ciuman hangat dari Faris mau tak mau membangkitkan gairah terpendam yang selama ini tersembuyi jauh di dasar jiwanya. Ia mengalami semacam sensasi aneh yang baru dikenalnya, yang sangat memabukkan dan membuatnya lupa diri. Jam baru pukul delapan malam namun kegelisahannya telah memuncak.
Nisa tak tahu—atau mungkin tak berani mengakui—bahwa dirinya telah dipenuhi sensasi seks yang menyenangkan. Terlebih ini adalah masa-masa suburnya. Letupan-letupan kecil yang dipicu oleh Faris membuatnya perlahan-lahan tebawa ke arus deras, hingga sulit terbendung oleh keremajaannya yang sedang membara. Penghalang dirinya untuk melakukan hal-hal yang lebih seronok adalah rasa malu, takut serta ketidaktahuan yang besar tentang kondisi-kondisi semacam ini. Tapi pancingan-pancingan yang dilakukan oleh Faris dengan lihai membawanya pada pengalaman-pengalaman terlarang yang sangat menggairahkan. Semuanya akibat kepolosan sang gadis remaja.
Jam delapan lewat dua puluh menit Faris bangkit dari duduknya dan menarik tangan Nisa agar mengikutinya. Hana tak sadar karena ia terfokus pada acara televisi. Nisa menurut dan dadanya berdebar kencang saat Faris menariknya ke lantai dua. Kalau Nisa sedikit lebih gaul, ia akan tahu Faris bermaksud melakukan sesuatu, tapi Nisa jauh lebih polos dari yang orang kira, hingga ia justru merasa senang saat Faris mengajaknya untuk melihat-lihat kamarnya. Ia senang bisa tahu isi dalam kamar kekasih yang ia cintai.
Nisa kagum pada suasana kamar Faris yang menyenangkan. Ia juga terkejut saat menemukan foto dirinya dalam affectation separuh badan terpampang di dinding kamar. Foto itu ditutupi Faris oleh affiche pemain bola, hingga tidak ada yang tahu bila setiap malam ia menarik affiche itu dan memandangi foto gadis yang tersenyum manis di sana.
Nisa setengah lupa tentang kapan ia membuat foto itu. Ia merasa foto itu lebih cantik dari aslinya. Tapi Faris menjelaskan bahwa affairs komputer photoshop dapat melakukan banyak hal, seperti membuat gadis secantik dirinya terlihat lebih segar dan mempesona. Nisa tersipu malu. Tapi itu belum seberapa, karena tiba-tiba Faris menarik dirinya agar berhadapan, lalu mengeluarkan sepasang anting mutiara dari kotak beludru di saku celananya. Nisa terperanjat. Faris berbisik mesra,
“Ini pasangan kalung yang pernah kuberikan. Aku mau kamu mengenakannya…”


Mata Nisa berkaca-kaca. Kalau saja ia berani, ia sudah memeluk pria di hadapannya dan menciumnya bertubi-tubi. Tapi ia terlalu malu untuk melakukan hal semacam itu. Ia hanya salah tingkah, saat Faris meletakkan anting-anting itu di telapak tangannya dan berkata lagi,
“Aku pasangkan sekarang, ya…”
“Tapi…” Suara Nisa serak dan lirih.
“Tapi kenapa?”
“Nisa malu…”
“Kok malu? Bukankah kita saling mencintai?! Masihkah kita saling tertutup?”
Nisa bingung untuk menjawab, karena ini adalah momen pertama dalam hidupnya ketika ia harus membuka jilbabnya di hadapan seorang laki-laki. Wanita-wanita yang biasa berbikini di kolam renang atau berpakaian seksi di Mall-mall tentu tak akan paham kenyataan ini. Tapi Nisa adalah perempuan yang sejak belasan tahun lalu selalu menutup seluruh bagian tubuhnya dan tak memamerkannya pada siapapun kecuali keluarganya. Melepas jilbab baginya sama seperti melepas rok di depan kamera bagi gadis keumuman.
Aneh? Memang! Tapi itulah kenyataannya. Ia setengah menangis saat tak kuasa menolak permintaan Faris yang menyudutkan itu. Ia memang diam. Tapi dadanya bergemuruh hebat saat jemari Faris melepasi jarum dan peniti yang menyemati jilbabnya. Ia tertunduk dalam dan menahan nafas saat tangan kekasihnya menarik lepas jilbabnya. Tangannya yang gemetar meremas-remas ujung kaus, dan tanpa sadar ia menggigit bibirnya sendiri saat Faris menarik dagunya agar mereka bisa saling bertatapan serta membelai rambutnya dengan mesra; rambut yang hitam lurus sepanjang bahunya.
“Kamu cantik sekali, Nisa…” Suara itu terdengar lirih, dan Nisa hanya terpejam menahan semua perasaannya. Itu adalah ekspresi terbodoh yang pernah ia lakukan, atau justru yang terbaik, karena semuanya mendorong Faris untuk mengecup bibirnya dengan lembut. Ciuman hangat dan penuh cinta, membawa Nisa terbang tinggi dan melupakan dunia ini.
“Mmmh…”


Nisa hanya terpejam pasrah. Tubuhnya gemetar hebat. Tapi mulutnya terbuka lebar saat lidah Faris mulai menjulur dan menggelitiki rongga mulutnya. Lidahnya ikut bergerak meski masih sangat kaku, saling menggelitiki untuk mendapatkan sensasi aneh yang sempurna. Tangannya begitu saja memeluk lengan Faris yang kokoh, yang saat itu tengah melingkarkannya di pinggangnya sendiri.
Waktu seakan berhenti. Dan keduanya terpaku seperti sepasang patung sihir. Hanya helaan nafas yang terdengar di sela-sela ciuman membara dan dipenuhi gelora cinta. Kedua tubuh itu merapat dan saling bergesekan, seakan tak dapat terpisahkan. Saling memberikan rasa hangat yang aneh dan membangkitkan seluruh saraf yang tertidur. Keduanya baru berhenti ketika nafas mulai habis dan terengah-engah kelelahan. Nisa kaget dan merasa malu sekali. Mulutnya basah akibat ciuman panas itu. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa selain menanti yang terjadi selanjutnya. Ia membiarkan Faris memasang anting-anting di kedua telinganya. Ia menahan rasa geli saat jari jemari Faris seakan menggelitik kedua telinganya, dan menurut saja ketika pria itu menuntunya ke hadapan cermin besar.
“Lihat… Kamu cantik sekali..”
Nisa melihat sekilas ke cermin, menyaksikan dirinya sendiri tanpa jilbab, dengan dihiasi anting-anting dan kalung mutiara dari kekasihnya. Ia merengek manja dan menutup muka dengan telapak tangannya. “Aah… Faris jahat… Nisa malu…”
“Malu sama siapa?”


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DPR Dukung Kebiri atas Pedofil

Eka Permadi Rabu, 21 Oktober 2015, 14:35 WIB 

VIVA.co.id - Presiden Joko Widodo merespons maraknya kekerasan seksual terhadap anak dengan bersikap tegas terhadap pelaku kejahatan seksual atas anak-anak. Dalam rapat kabinet terbatas 20 Oktober kemarin diputuskan perlu hukuman kebiri atas penjahat seksual kepada anak-anak.

Wakil Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Sodik Mudjahid, mendukung rencana tersebut. "Hukuman harus membuat pelaku jera," kata Sodik saat dihubungi Rabu, 21 Oktober 2015.

Menurut Sodik, hukuman kebiri hingga hukuman mati bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak sudah sejak lama menjadi bahan diskusi di DPR. Namun ia mengingatkan hukuman kebiri jangan hanya menjadi ancaman belaka.

Selain itu, menurut Sodik, hukuman berat seperti kebiri hanya sebagai penjaga gawang."Ini pertahanan terakhir pencegahan kekerasan terhadap anak. Garis pertahanan terdepan adalah aspek pencegahan yang harus dilakukan pemerintah," kata Sodik.

Politisi partai Gerindra ini menegaskan pemerintah dengan segala program dan anggaran telah gagal dalam melindungi dan mencegah kekerasan terhadap anak Indonesia. Ini terbukti dengan banyaknya kekerasan terhadap anak hingga menimbulkan korban jiwa.

Sodik menuntut pemerintah serius melakukan pencegahan terhadap kekerasan anak."DPR Sesuai dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat siap mendukung dengan merevisi Undang-undang, Menaikan anggaran perlindungan anak dan pengawasan semua stakeholder dalam penegakan hukum," katanya.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, dalam keterangan pers bersama usai rapat terbatas, di Kantor Kepresidenan, Selasa 20 Oktober 2015, mengatakan Presiden menyetujui hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak.

"Beliau (Presiden Joko Widodo) setuju pemberatan hukuman terhadap pelaku. Termasuk pengebirian saraf libido," katanya.

Sementara itu, Jaksa Agung H.M.Prasetyo mengatakan pemerintah menganggap kejahatan pada anak-anak, terutama kejahatan seksual, sudah masuk kategori kejahatan luar biasa."Nanti kami terapkan hukuman tambahan, berupa pengebirian," kata Prasetyo. (ren)




© VIVA.co.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PUISI SEDIH-”KEPEDIHAN”


PUISI_”KEPEDIHAN”
Terdiam tanpa kata
Terpaku tanpa suara
Senyuman yang selalu dijaga
Seakan redup tanpa cahaya.
Tak ada kata yang bisa ku ucapkan
Tak ada lagu yang bisa ku nyanyikan
Hanya suara hati yang tersimpan
Untuk ungkapkan kepedihan.
Disaat jiwa terasa sedih
Hati terasa pedih
Hanya setetes air mata
Yang perlahan-lahan membasuhi luka.
Segumpal kata bertahtakan kepercayaan
Segumpal setia bertahtakan pengorbanan
Tanpa tanda tanya
Kau tanam dihati duri kepedihan.
Lilin cinta yang membeku
Perlahan-lahan mencair
Oleh api penghianatan yang membara
Hingga akhirnya aku tak mampu
Untuk menahan kepedihan dihatiku.
Ini kah balasan cinta yang kuterima???
Kau buat hatiku lumpuh
Kau buat hatiku tak mampu
Untuk seceria yang dulu.
Kasih sayangmu dulu
Suaramu dulu
Hadirmu dulu
Biarlah kusimpan selalu
Dengan sisa cinta yang  kumiliki
Akan ku jadikan kenangan
Kenangan didalam detik-detik perpisahan.
Semoga berbahagia kepada dirimu
Semoga engkau bahagia tanpa aku
Biarlah kusimpan selalu kepedihan ini
Biarlah kusimpan semua kenangan yang kita bina
Dengan sisa cinta didalam hati
Hingga nafasku berhenti

Karya : Afrizal
Pin BB : 51B3279E

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS